Tempat berbagi Puisi, sajak cinta dan Kumpulan Puisi-puisi terbaru, yang dikirim oleh sahabat puisi.

Puisi Akhir Sebuah Cerita

Entah bagaimana aku menyambut hari esok,
kurang dari 24jam dari detik ini,
Ku rasa akan menjadi hari yang paling bersejarah di dalam hidupmu, sekaligus penuh sesal di atasku.
Laki-laki yang begitu mencintaimu dengan santun,
akhirnya jatuh pada dia yang siap menjagamu dalam ikatan suci.
Aku seharusnya ikut berbahagia, seharusnya……
Pada dia yang menyempurnakan separuh agamamu..

Esok adalah hari pernikahanmu, sayang..
Hal yang pernah kita mimpikan bersama.
Dan menyadari itu hatiku seperti ditujam dan tersayat dalam berbagai rupa,
Ingin sepertinya malam ini ku kecup keningmu dengan mesra, untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya kamu menjadi miliknya seutuhnya.

Aku rasa dia begitu menantikan saat itu,
Bersamamu,,
Ketika sang penghulu dan wali-mu mengucap “sah” atas ijab dan qabul yang terucap atas nama Tuhan, dan dia lah yang mengecup keningmu pertama sebagai seorang penanggungjawabmu selanjutnya,
Yang menanggung suka dan duka atas masa depanmu,
Dan dia yang kamu kecup tangannya dengan patuh sebagai imam-mu…

Dan malam ini aku menjadi laki-laki yang begitu dipenuhi ketidaksiapan menyaksikan cincin itu mengikat jarimu penuh cinta,
Jari-jemari yang kemarin aku genggam begitu erat,
Jari-jemari yang kemarin mengusap kepalaku ketika lelah,
Jari-jemari yang kemarin sabar mencubitku ketika bercanda,
Jari-jemari yang kemarin aku kecup penuh kasih..
Dan semuanya harus (terpaksa) aku hentikan.
Bukan aku tidak ingin melihatmu bahagia,
Bukan,
Yang menjadi kesesalanku adalah mengakui jika bukan aku lah yang menikahimu.
Aku rasa cinta yang aku punya tidak lah kalah besar dari dia yang kamu punya sekarang,
Aku siap membahagiakanmu,
Kelemahan serta kelalaianku lah yang mengakibatkan airmatamu menetes ratusan hari,
Sampai akhirnya dia datang dan langsung meminangmu,
Entah malaikat jenis apa yang membisikimu untuk menerimanya,
Aku rasa kelamaan aku bisa gila dibakar cemburu..

Kamu tau, sayang?
Sampai saat kamu datang mengantar kabar pernikahanmu,
Hatiku seperti tak di tempatnya,
Pikiranku menangis,
Duniaku gelap,
Dan lidahku mati rasa untuk mengucap selamat.

Jika aku pernah tau penyesalan selalu datang belakangan, ternyata aku belum cukup siap dihujani penyesalan yang begitu dalam.

Dan esok,
Siap atau tidak siap, aku harus menyaksikan kamu bermanja dengannya di pelaminan,
Pernikahan adalah hal yang baik,
Tapi ternyata ada saja hati yang tidak sepenuhnya menerima,

Apa aku harus memelukmu seperti biasa saat kita dulu melepas rindu?
Atau aku harus hanya menjabat tanganmu seperti diawal perkenalan?
Atau aku harus membawa bunga kesayanganmu seperti saat kita baru saja selesai bertengkar?
Atau aku harus menampar wajahnya keras sebagai peringatan jika aku bisa saja menghajarnya lebih kuat andai dia bersikap buruk atasmu?

Aaah, rasa ini menyudutkan aku,
Rasanya seperti terlepas dari dunia sendiri,
Jika saja aku bisa melewati hari pernikahanmu,
Apa aku bisa menahan ketika berjumpa denganmu sedang bersamanya nantinya?

Padahal kamu tau,
Namamu lah yang aku minta pada Tuhan sebagai permaisuri di akhiratku,
Namamu juga yang selalu aku selipkan di sekecil apapun Doaku.
Pangkal dari segala akar semangatku,
Tapi setelah ini, menatap matamu saja adalah hal yang terlarang bagiku.
Bagaimana mungkin aku bisa,
Sementara kamu pernah menjadi mata ketika aku merasa gelap.
Entah permainan macam apa yang digariskan,
Jika akhirnnya namamu bukan bersanding denganku

Cerita kita belum selesai, sayang…
Sementara aku harus mengikhlaskanmu bukan untuk aku,
Melepasmu dalam sebuah pernikahan sembari mengakui aku lah yang kalah,
Kini doaku harus ku perbaharui,
Berbahagialah kamu bersamanya,
Tunduk lah kepadanya selama dia taat pada Tuhanmu,
Jagalah kehormatannya sebisa mungkin,
Kamu lah perhiasannya,
Tempatnya bercerita dan menumpahkan sepenuhnya cinta,
Biar aku yang menyimpan ceritamu dalam perasaanku, biar lenyap dihabisi waktu,
Aku yang juga mencintaimu selain dia,
Di dalamnya kamu masih kekasihku yang manja,
Terimakasih jika kamu lah semangat terbesarku,
Jika ternyata namamu bukan untukku,
Setidaknya Cintamu pernah tinggal di hatiku,
Aku akan belajar ikhlas mulai saat ini, semoga :’)
Aku turut berdoa atas kebahagianmu, sayang..

Tertanda,
dari aku yang mencintaimu,

(Jakarta,, Sabtu 24 agustus 2013 00.13)

Puisi Akhir Sebuah Cerita Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Puisi Romantis